Showing posts with label Street Food. Show all posts
Showing posts with label Street Food. Show all posts

Monday, September 21, 2020

Sego Codot Sajikan Kerongkongan Ayam


Jika ingin kulineran ke Salatiga jangan lupa mampir ke sego codot. Ya, warung ini memang menjadi salah satu tujuan kuliner di Salatiga. Banyak penggemar kuliner penasaran karena codot adalah hewan pemakan buah yang keluar saat malam. Dan disini menu yang disajikan tidak ada hubunganya dengan codot.

Warung makan ini berbentuk angkringan tenda di pinggir jalan, tepatnya di Jl Domas no 21 Sidorejo, Salatiga. Et jangan salah sangka, walau berbentuk angkringan di pinggir menu warung ini sangat lezat dan tidak kalah dengan resto mahal.

Sebelum pandemi warung ini melayani pembeli hingga menjelang subuh. Tapi Saat situasi pandemi Covid-19 sekarang ini, sego codot hanya buka mulai jam 16.00-22.00.

Disini penggemar kuliner dimanjakan dengan beraneka macam menu ayam yang menggoda. Mulai ayam bagian kepala, sayap, dada, paha, usus, ceker, hati, kulit bahkan ayam utuh atau ingkung. Ada satu menu yang paling diburu yakni, ayam kerongkongan. Sesuai namanya, menu satu ini memang unik, terdiri dari bagian ayam lengkap namun hanya tulang belulang, tidak ada daging. Dengan dilumuri bumbu kecap dan dibakar, cita rasanya dan aromanya semakin menggugah selera.

Selain itu, nasi uduk bakar juga menjadi sajian utama. Setelah habis, akan diganti dengan nasi putih biasa. Selain digoreng, ayam bisa juga dibakar, seusai permintaan. Sego codot juga menyajikan tahu, tempe, sosis, scallop, bakso, dan burung puyuh.(min)

Saturday, March 31, 2018

Soto Ayam Pak Wen, Ditaburi Kremesan dan Gulungan Usus


Ingin menikmati segarnya soto ayam di Semarang? Singgah saja di warung soto Pak Wen yang berlokasi di belakang SMA Ksatrian Semarang.

Warung soto yang berdiri sejak tahun 1952 ini, menyediakan soto khas dengan taburan kremesan sebagai pelengkap rasa. Kremesan terbuat dari tepung yang dicampur dengan telur kemudian digoreng kering.

Ciri khas lainnya terletak pada lauk soto. Yakni ada bunderan dan tempe. Bunderan adalah usus yang digulung. “Bunderan ini, jarang didapatkan di tempat lain,” jelas Aldila Jelita salah satu pengelola warung soto Pak Wen. Sedangkan untuk lauk, pengunjung dapat memilih mulai dari telur ayam bacem, sate kerang, sate ayam, dan tempe goreng.

Rasa nikmat soto ayam Pak Wen tidak diragukan lagi. Soto ini terus dilestarikan dengan resep yang sama dari Joh Wen pendiri pertamanya. “Hingga kini, soto Pak Wen sudah dikelola oleh 3 generasi,” tambahnya.

Generasi pertama adalah Jon Wen (almarhum), dilanjutkan oleh anaknya Mochlan. Dan kini diteruskan oleh anak Mochlan alias cucu Jon Wen. Yakni Ningrum, Niken Martiningsih, Aldila Jelita dan Dian Oktavia.

“Dalam pengelolaan, kami tidak pernah melakukan pembagian khusus. Kami memberikan kesempatan pada siapa saja yang bisa,” terangnya.

Karena dikelola atas dasar persaudaraan, gaji yang diberikan juga berdasarkan kepercayaan. “Kami membagi gaji setiap hari. Sesuai dengan jumlah soto yang terjual,” katanya.

Setiap hari, terjual sekitar 200 mangkuk. “Selain berjualan rutin setiap hari, kami juga menerima pesanan, minimal 100 mangkuk,” ucapnya. Sedangkan untuk harga rata-rata per mangkuk Rp 4000.

“Dengan harga tersebut kami mampu menggaet pengunjung dari berbagai kalangan. Mulai dari kalangan atas, menengah hingga bawah,”ujarnya. Meskipun tergolong sukses dengan bisnis soto, namun cucu-cucu Pak Wen, belum bermaksud membuka cabang baru. “Keinginan itu ada, tapi nantilah tunggu kesempatan yang tepat,” terangnya.(*)

Friday, April 13, 2012

Tahu Pong Bikin Plong

Tahu Pong Gajahmada
Jalan Gajahmada No 63B Semarang

Menikmati kuliner khas Semarang, tampaknya belum lengkap, jika tak singgah di Tahu Pong Gajahmada. Makanan yang disajikan dengan ciri khas kuah kecap ini, cukup populer di Semarang bahkan melegenda.  Terbukti sejak warung didirikan tahun 1972 hingga sekarang masih eksis.
Makan sekali rasanya langsung plong alias lega.
Pendirinya adalah almarhum Ny Ngatini. Saat ini, warung yang berlokasi di Jalan Gajahmada no 63 B Semarang tersebut dikembangkan oleh generasi kedua yaitu Miharto, 68, warga Tanggul Mas Barat Gang 5 no 69 Semarang dan Marsiyah, 60, warga Tanggul Mas Barat 5 no 71 Semarang.
Warung dengan 7 pelayan ini masih terus dikunjungi pelanggan. Menurut Miharto, salah satu kunci sukses, dalam mempertahankan keberadaan warungnya adalah dengan menjaga kualitas. “Tahu pong di tempat ini rasanya gurih, selain itu ukuran juga besar sekitar 10 cm dengan tebal 2 cm,” ujarnya.
Harga satu porsi tahu pong pun bervariasi, tergantung dari isi tahu pong tersebut. Tahu pong tanpa isi harganya sekitar Rp 8 ribu, tahu pong gimbal Rp 14 ribu, tahu pong telur Rp 17 ribu dan masih banyak lagi.
Tingginya minat pengunjung ke warung ini, dipengaruhi faktor lokasi di pinggir jalan raya yang merupakan pusat keramaian. “Kalau ditanya pelanggan kebanyakan dari mana, sepertinya semua kalangan. Mulai dari karyawan hingga pejabat,” terangnya.
Rata-rata setiap harinya, menghabiskan 70 hingga 80 porsi tahu pong. “Jika Sabtu dan Minggu jumlahnya bisa bertambah,” katanya.

Bakso Pak Kribo Rasa Nikmat dengan Bahan Pilihan

Rasanya puas bila mencicipi lezatnya semangkuk bakso Pak Kribo di Jalan Sukun Raya Semarang. Bakso yang dihidangkan panas dengan bulatan-bulatan daging di dalamnya cukup menggoda selera.

Ya, bulatan bakso yang ditawarkan pembeli 2 macam. Ada yang  berukuran besar dan kecil. Biasanya semangkuk bakso akan diisi 4 biji bakso ukuran kecil dan 2 bakso besar. Meski demikian tidak menutup kemungkinan, bagi yang ingin menikmati bakso ukuran besar saja, akan mendapatkan 3 buah bakso ukuran besar dalam satu porsi. Sedangkan yang berminat dengan bakso ukuran kecil saja, mendapatkan 10 buah bakso.

Kelezatan bakso Pak Kribo ini, tidak lepas dari kualitas bahan yang digunakan. Dibalut dengan resep pilihan yang telah teruji selama 20 tahun. “Kami memang berupaya senantiasa menjaga kualitas, sehingga tidak akan ditinggalkan pelanggan,” ungkap Manager Bakso Pak Kribo Fuad Widodo.

Selain rasa yang ditawarkan, pas untuk lidah orang Semarang. Warung bakso yang satu ini, juga memiliki keistimewaan para pelayannya yang kompak. Dalam menyervis pelanggan, para pelayan sangat cekatan. Pelanggan tak menunggu lama, pesanan sudah siap dinikmati. Padahal warungnya cukup ramai pembeli.

Pemilik warung, H Triono mempekerjakan 7 karyawan yang terdiri atas 2 perempuan dan 5 orang lelaki. “Di sini tugas pelayan baik perempuan maupun laki-laki sama saja, intinya memberikan yang terbaik pada pelanggan,” kata Fuad. 

Selain kompak, dalam bertugas para pelayan mengenakan seragam yang berganti-ganti setiap hari. Misalnya saja untuk hari Senin maka seragam yang digunakan adalah batik berwarna merah, Selasa batik berwarna putih, Rabu kaos biru, Kamis kaos biru, Jumat kaos coklat, Sabtu kaos Kuning, Minggu kaos orange.

Dengan rasa dan kekompakan pelayan yang terjaga, tidak aneh jika warung bakso yang satu ini tidak pernah sepi pengunjung. Dalam sehari sekitar 35 hingga 40 kilogram daging sapi habis terjual. “Biasanya paling ramai hari libur, atau Sabtu dan Minggu,” terangnya. Pada waktu-waktu tersebut pengunjung didominasi keluarga.
“Berapa pun pengunjungnya, sepi ataupun ramai harga yang kita tawarkan tetap sama. Untuk semangkuk bakso pengunjung cukup merogoh kocek mereka sekitar Rp 7.500,” tambahnya.(*)

Sunday, May 30, 2010

Soto Ayam Mas Met Khas Semarang

Para penggemar soto tentunya tidak akan melewatkan warung yang satu ini. Adalah warung Soto Ayam Indraprasta Mas Met berada di Jl Indraprasta Semarang, tepatnya di depan SPBU Indraprasta.
Meski warung tersebut sederhana, penggemarnya banyak. Terbukti pada saat jam makan siang, warung ini dipenuhi ratusan pelanggan. Bahkan ada yang rela datang dari luar kota, hanya untuk menyantap soto ayam racikan Mas Met ini.

Pemiliknya adalah Slamet, 64, warga Sadewa Utara III No 212 Semarang, dibantu Parmi, 63, istri dan empat anak mereka. Perjalanan hidupnya bagaikan roda kehidupan penuh liku perjuangan. Diceritakan Slamet, sebelum berjualan soto, dulu tahun 1970, dirinya seorang tukang becak. Setelah lima tahun keliling seputar Semarang mengayuh becak, akhirnya Slamet banting setir.

Dengan modal nekat, Slamet mencoba peruntungan berjualan soto, pada awal tahun 80-an. "Waktu mau jualan soto, saat itu hanya bermodal nekat saja. Hanya karena ada kemauan, dan dibantu pinjaman angkring untuk keliling," ucap Slamet yang terkenal dengan nama Mas Met, menerawang masa lalu.

Dengan berjualan soto pikulan, mulailah Slamet keluar masuk gang menjajakan masakan yang diracik sendiri. "Saya belajar memasak soto secara otodidak, tidak ada yang mengajari. Sebelumnya saya tidak pernah ikut orang jualan soto atau diajari orang tua memasak soto. Saya berusaha menciptakan soto dengan bumbu racikan sendiri. Yang penting rasanya pas saya puas," jelas ayah dari Besus Sarjono, Siti Rohmanah, Sujiwati, dan Ambar Arum Lestari.

Untuk membuat rasa soto pas dengan lidah para pelanggan, Slamet tak segan-segan meminta pendapat para pembelinya mengenai. Sampai akhirnya ditemukan racikan yang pas bagi soto ayamnya ini.
Selama enam tahun Slamet berkeliling di seputaran Indraprasta, Slamet menemukan tempat mangkal yang cocok di tempatnya sekarang. Dengan berbentuk warung sederhana Slamet berhasil menjaring banyak pelanggan.

Tahun 1985, Slamet mengembangkan tempat usahanya dengan membuat permanen. Alhasil banyak pelanggan yang sering jajan di warungnya, seperti dari Jakarta, Bandung, Surabaya, Solo, Jogja, dan Semarang sendiri.

Untuk menarik para pelanggan, Slamet berusaha mempertahankan rasa dan kualitas rasa. Semua bahan baku soto dipilih dari yang berkualitas.
Tidak segan-segan Slamet berbelanja sendiri keperluan warung, seperti membeli ayam kampung jago di pasar kobong.

Untuk menambah kualitas soto, Slamet menggunakan beras rojo lele super untuk nasi campuran soto. Bahkan pemilihan seledri dan onclang juga tidak sembarangan. Selain itu, ia juga menyediakan tempe, perkedel, sate kerang, sate puyuh, sate ayam, telur bacem, sate usus, sate jeroan, dan masih banyak lagi.